Thursday, February 13, 2020

Review IT: Chapter Two



Kali ini kita akan Flash back ke bulan september tahun 1989, yang dimana para The Losers Club membuat perjanjian kalau Pennywise belum mati mereka harus kembali ke kota Derry untuk membunuhnya. Masih ingat kan kalian dengan kemunculan Pennywise setiap 27tahun sekali?
27 tahun kemudian, yang dimana para gang Losers ini sedang menikmati kesuksesan karir mereka masing-masing, ada yang menjadi comedian, penulis, arsitek bahkan seorang business man. Tidak di sangka kalau kebahagiaan mereka ini, tiba-tiba terganggu hanya karena sebuah telefon dari sahabat lama. Mike.

Setelah berpisah tepat 27 tahun lamanya, para sahabat ini akhirnya kembali bertemu dan kembali ke kota Derry. Pertemuan mereka ini menjadi awal petualangan untuk menyelesaikan janji mereka 27 tahun lalu. Saat tiba di kota Derry para anggota gang ini kembali mengingat kejadian-kejadian menyakitkan yang pernah terjadi. Sumber masalah dari semua ingatan buruk ini adalah Pennywise. Untuk terbebas dari belenggu dan menyelamatkan kota Derry dari badut jahat ini, gang ini harus melakukan ritual panjang dan mengerikan untuk bisa menuntaskannya.

Menurut gue, film IT Chapter Two ini lebih banyak menampilkan sisi horor nya, kalau IT Chapter One hanya di kagetkan dengan sosok badut seram, kalau di Chapter Two ini mulai dari hantu berwujud bayi, bola mata, laba-laba hingga zombie muncul di film ini. Dan film ini cukup menjijikan karena ada adegan ber”nanah” dan ber”darah”nya, film ini cocok di tonton untuk usia 17tahun keatas.

Film ini masuk kedalam film tercapek yang pernah gue tonton, kenapa capek? Karena ga dikasih jeda untuk nggak deg-degan, guys. Setelah scene yang menunjukkan kesuksesan masing-masing berlalu, setiap adegan dalam film ini membuat tegang dan merinding. Film berdurasi 2 jam 15 menit ini, menggunakan subplot dari setiap tokoh, ini sih menurut gue karena pemain yang di sorot banyak banget guys. Film ini membuat kita kembali mengingat adegan-adegan pada 27tahun lalu dan scene yang tidak ada sebelumnya.

Salah satu scene dalam Chapter Two ini sedikit menceritakan sisi lain dari Richie, dalam film ini menjelaskan kalau Richie ternyata sangat menyayangi sahabatnya Eddie. Walaupun dalam film ini Eddie telah menikahi seorang wanita yang disebut kelebihan berat badan. Dan jujur gue confused banget sama Beverly, sebenernya dia mau sama siapa sih? Suami ada, tapi kok malah kissing sama Billy dan Ben :’) Hahaha ya ujung-ujungnya Bev lebih milih Ben sih, well said “And if you find someone worth holding on to, never, ever, let them go.”

Salah satu yang unik dari karya Stephen King adalah Dark Comedynya. Menurut gue jokes yang disampaikan pada film ini kurang tepat waktu, nuansa horor dan tegangnya jadi hilang terganti dengan kelucuan yang terus disampaikan tidak pada tempatnya. Seperti adegan saat Richie yang selalu nyeletuk di setiap kejadian yang sedang tegang, dan saat Richie dengan Eddie memilih level sebuah pintu :’) I’m okay with that sih, cuman memang sedikit menggangu aja.

Ending dari film ini cukup menyedihkan, karena salah satu tokoh yang suka marah-marah meninggal dunia, Eddie. Adegan saat ingin memusnahkan Pennywise bikin gue mikir “kenapa ngga dari dulu kalo cuma gitu doang, hey?” ya nggak cuma sih, karena guys ternyata Pennywise bisa mati dan menghilang dengan mudah hanya dengan di bully. Jadi point yang gue dapet dari film ini adalah dengan melawan rasa takut, dengan kita lawan, semua rasa takut bakal kalah dan hilang guys, sama hal nya seperti si Pennywise yang hidup karena ketakutan semua orang.

Jadi, gimana guys? Apakah film ini cukup bikin kalian takut? Atau malah mau nonton lagi?

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search