Thursday, February 20, 2020

Review Little Women, Menolak Menikah Demi Karir

Review Little Women, Menolak Menikah Demi Karir



Nah ini dia salah stau film yang paling gue tunggu, film yang di nyatakan mundur tayang beberapa bulan dan jeda yang cukup lama dari tanggal rilisnya di Amerika Serikat, Little Women akhirnya rilis di Indonesia pada 7 Februari 2020.
Film ini memberikan cerita yang sangat mengesankan dengan lifestyle di tahun 1800-an, Little Women, merupakan film karya sutradara Greta Gerwig. Film yang diproduksi oleh Sony Pictures Entertainment ini merupakan adaptasi novel klasik tahun 1869 karya Louisa May Alcott. 
Lahir di tengah keluarga miskin saat era perang, mereka berjuang mengejar mimpi sembari melawan stigma terhadap perempuan di masa itu. Di seberang rumah sederhana Keluarga March, berdiri megah kediaman Keluarga Lawrence, di mana terdapat Tuan Lawrence yang sangat kaya raya dan cucunya, Laurie tinggal bersama. Hingga akhirnya keluarga March bersahabat baik dengan keluarga Lawrence.

Adaptasi film Little Women yang pertama pada 1933 pernah mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik di ajang Oscar. Secara garis besar Little Women bercerita tentang empat saudara perempuan dalam satu keluarga. Mereka adalah Jo, Meg, Amy dan Beth March serta ibunya Marmee.
Film ini diceritakan dengan latar waktu pada abad ke-19 atau setelah perang saudara di Amerika. Dimulai dari kehidupan sosial tentang cinta, karier maupun keluarga, semuanya terasa seperti masa sekarang walaupu berlatar belakang abad ke-19. Sebagai peran utama, Jo akhirnya menemukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Semua karakter dalam film ini memiliki cerita dan latar belakang masing-masing, film ini menceritakan sangat detail tiap karakternya 4 bersaudara ini.
Secara garis besar, film ini memiliki alur cerita yang maju mundur dan akan menceritakan masa lalu Jo pada 7 tahun silam bersama keluarganya. Scene ini menceritakan saat Jo membawa Beth ke pantai saat sedang sakit. Dalam adegan ini Beth meminta Jo agar bisa menjadi penulis kembali demi Beth yang berkemungkinan tidak berumur panjang.
"Lakukan saja seperti yang diajarkan Marmee. Lakukan untuk orang lain" – Beth.
Kemudian ada momen dimana Marmee menjadi sukarelawan di posko bantuan korban perang. Marmee saat itu sangat terharu melihat seorang bapak yang rela tiga anaknya harus berangkat ke medan perang. Marmee langsung teringat dan merasa sedih saat mengingat suaminya harus ikut perang tetapi sebenarnya Marmee tidak menginginkannya. Sementara, bapak tua ini merelakan semua anggota keluarga yang ia punya demi membela bangsa.

Tidak lama dari itu, Marmee menerima kabar kalau suaminya sedang sakit di medan perang, karena Marmee tidak punya uang untuk menjenguk suaminya, Jo yang mengetahui kabar ini langsung berinisiatif untuk menjual rambutnya agar bisa memberangkatkan ibunya untuk menemui sang ayah.

Nah, kalau kalian seorang perempuan dan mencintai dunia princess, pasti akan menyukai kostum-kostum yang di kenakan keluarga ini. Kostum karya Jacqueline Durran ini cukup berhasil membuat keluarga yang berlatar belakang miskin menjadi lebih elegan.

--

"I'd hate elegant society, and you'd hate my scribbling, and we would be unhappy, and wish we hadn't done it, and everything will be horrid." – Jo

Perkataann itu keluar dari mulut Jo saat melakukan sebuah penolakan lamaran dari Laurie. Adegan ini seperti merubah suasana yang menontonnya menjadi dingin dan hening. Jo menolaknya lantaran merasa ingin mengejar cita-citanya terlebih dahulu, Jo memiliki karakter yang sangat ambisius dalam masalah karier. Jo memaksa kakaknya Meg, untuk tidak menikah dan mengejar mimpinya menjadi seorang Aktor. Namun, Meg lebih memilih menikah disaat Jo sedang menjauhi hal pernikahan dari dirinya.

Meg di ceritakan sebagai kakak pertama yang cantik dan bercita-cita ingin menikah dengan  pria yang kaya raya. Sedangkan adiknya Amy, ingin menjadi seorang pelukis yang handal.

Jo di anggap tidak memiliki arah dan tujuan oleh bibinya, Bibi March. Bibi March merasa seorang gadis yang tidak ingin menikah merupakan gadis yang kehilangan arah, Bibi March lalu berharap adik terakhirnya dapat menjadi sebuah harapan agar tidak mengikuti jejak Jo.

Film ini terkesan lebih modern walaupun di setting dengan latar belakang abad ke-19. Cerita yang di angkat dari novel ini ternyata menceritakan kisah asli dari penulisnya. Menceritakan dengan awal mula Jo bertemu dengan sang penerbit buku yang akhirnya Jo dapat merilis buku yang berisi tentang gadis-gadis March, yang secara garis besar menceritakan tentang dirinya dan ketiga saudara nya.
Hingga akhirnya film ini ditutup dengan suasana yang lebih modern, dengan posisi Jo yang telah berhasil membuat sekolah khusus anak laki-laki.

Sutradara Gretta Gerwig cukup berhasil untuk memainkan pola waktu yang ada pada film ini, jadi yang nonton pun tidak perlu pusing ada berpikir scene nya berada di era yang mana dan cukup memperkuat bentuk emansipasi wanita dalam film ini. Menurut gue, film ini cocok untuk kalian yang berumur 17tahun keatas nih guys, dan kalian bisa nonton ini bersama keluarga atau teman.

Kalau kalian udah nonton filmnya, share juga dong pengalaman nonton kalian :) Gue tunggu di kolom komentar ya, guys!


Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search