Saturday, February 15, 2020

Review Milea: Suara dari Dilan

Review Milea: Suara dari Dilan




Wahhh akhirnya, guys film karya pidi baiq yang ketiga ini akhirnya tayang. Menurut gue, sebelum nonton film ini kita ngga perlu berekspektasi berlebihan, karena ngga banyak yang special dan terlihat baru di film ini. Film ini benar-benar full cerita isi hati dari Dilan yang sebenarnya, bagaimana Dilan menahan kecewa dan berbohong kepada Milea agar Milea juga tidak merasa sedih.

Film ini menceritakan perjalanan kisah cinta antara Milea dan Dilan yang harus berakhir hanya karena sebuah kesalah pahaman. Buat kalian yang sudah pernah nonton Dilan 1990 – 1991 pasti akan merasa bosan dan merasa sudah cukup dengan semua drama antara Dilan dan Milea.

Benar-benar “Suara dari Dilan”, film ini berisi adegan-adegan dari film Dilan 1990 – 1991 yang kemudian di ceritakan dengan detail melalui suara Iqbaal Ramadhan, bagaimana mereka akhirnya berpacaran hingga putus. Film ini seakan-akan mengajak para penonton nya untuk turut rindu dengan keromantisan Dilan dan Milea.

Hanya saja, film ini menceritakan sisi lain dari sosok Dilan yang terlihat cool dan romantis di depan Milea. Dilan di gambarkan sangat rapuh, sedih dan kecewa dengan keputusan Milea yang selalu membenci apa yang Dilan lakukan dengan gang motornya. Ini menurut gue karena Dilan nggak pernah marah sama Milea, jadi Milea bisa bersikap seenaknya ke Dilan. Hari ini bilang putus, eh besok bilang rindu, besoknya lagi bilang “Dilan, kok kamu berubah?”  please Milea, intorpkesi diri hahaha :’)

Dibalik sosok sangarnya Dilan sebagai panglima tempur, ternyata ia sangat mencintai Milea dan akan selalu membela Milea. Dilan selalu merindukan Milea dan berharap Milea ada disampingnya selalu saat Dilan sedih dan membutuhkan dukungan. Ketika sahabatnya meninggal, Dilan benar-benar terpukul dan membutuhkan teman berbicara, tetapi Milea lebih memilih untuk tetap Bersama teman-temannya.

Di beberapa tahun kedepan, film ini menceritakan meninggalnya Ayah Dilan karena sakit. Saat sedang sakaratul maut, Ayah Dilan sempat-sempatnya meminta Dilan untuk mengajak Milea bertemu dengan Ayah. Tak cukup waktu, Ayah sudah tiada tepat di pangkuan Dilan.

Semua berubah ketika Dilan harus berbohong kepada Milea dengan bilang kalau Dilan telah memiliki pacar baru, tidak ada kejelasan apapun, mereka akhirnya menjalani hidup masing-masing dan berpisah hingga kuliah. Perpisahan ini menjadi sebuah penyesalan masing-masing tokoh utama, permasalahan yang mengutamakan gengsi saat remaja dulu. Milea yang di kabarkan telah bertunangan ini, tetap membuat Dilan terpesona.

Sebenernya nggak banyak yang bisa di review dari film ini guys. Karena, tidak banyak perkembangan yang terjadi dalam film ini, film ini hanya sebuah pelengkap yang lebih detail dari setiap scene yang sudah ada di film Dilan 1990 – 1991. Endingnya juga cukup membuat kecewa, guys. Dilan masih terus mencoba untuk melupakan Milea dan berhenti merindukannya, hingga film ini di tutup dengan “InsyaAllah, nanti ketemu lagi”

Film berdurasi 102 menit ini gue rasa tidak terlalu memakan banyak waktu untuk syuting, karena dominan menggunakan scene yang sudah ada di film Dilan 1990 – 1991. Film ini di rekomendasi untuk di tonton usia 13 tahun keatas. Yaa umur-umur habis lulus SMP ya guys.

Gue cukup merekomendasikan film ini untuk kalian yang butuh penjelasan dan rindu dengan sosok Dilan. Film ini sudah tayang di bioskop per 13 Februari ya guys, di hari pertamanya film produk Falcon Pictures ini telah mendapatakn 400 ribu penonton! Waahh keren ya, besar banget antusias penonton Indonesia!

Kalau kalian tertarik untuk menontonnya, cus pesen tiketnya ya guys!

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search